Senin, 27 Desember 2010

Biaya Produksi

BAB I 
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang dan Tujuan
Latar belakang dan tujuan pembuatan makalah ini untuk memenuhi tugas micro ekonomi yang diberikan dan memahami materi lebih mendalam lagi, serta untuk mengetahui apa saja jenis – jenis biaya produksi dan perbedaannya.

B. Pengertian Biaya
Pengertian biaya (cost) berbeda dengan pengertian ongkos (expenses). Ongkos (expenses) adalah biaya yang dikeluarkan untuk manfaat yang telah diperoleh saat melakukan transaksi. Biaya (cost) adalah pengeluaran yang berhubungan dengan hasil yang diharapkan di masa yang akan datang. Dalam pengertian ekonomi, biaya ialah investasi.

C. Unsur – Unsur Biaya
Biasanya, perusahaan yang bergerak di bidang agraris dan ekstraktif memiliki unsur biaya produksi lebih sedikit dibandingkan dengan perusahaan di bidang industri. Unsur – unsur biaya produksi pada perusahaan di bidang industri, ialah :
  1. Biaya Langsung (Direct Cost)
a.      Bahan Baku dan Bahan Penolong
Bahan baku adalah bahan yang. Bahan penolong adalah bahan yang digunakan untuk membantu proses pembuatan barang.
b.      Upah Tenaga Kerja
Upah adalah uang yang diterima sebagai imbal jasa atas tenaga dan pikiran yang telah diberikan kepada perusahaan. Tapi, perlu diingat bahwa upah tenaga kerja yang termasuk biaya produksi ialah upah tenaga kerja yang langsung menangani produksi.
  1. Biaya Tidak Langsung (Indirect Cost)
Biaya tidak langsung adalah semua pengeluaran yang tidak berkaitan langsung dengan proses produksi. Contoh : pajak, listrik, telepon, air PAM, gaji, biaya perbaikan gedung. Biaya tidak langsung terdiri dari :
a.      Biaya Umum
b.      Biaya Penjualan adalah semua biaya yang dikeluarkan oleh perusahaan untuk menjual hasil produksi. Contoh : biaya promosi/iklan, upah komisioner/makelar.


BAB II
ISI dan PEMBAHASAN

A. Biaya Produksi
Biaya produksi adalah pengeluaran yang dilakukan perusahaan untuk memperoleh faktor – faktor produksi dan bahan mentah untuk menghasilkan barang dan jasa. Secara garis besar biaya produksi dapat dikelompokkan menjadi dua macam, yaitu biaya produksi eksplisit dan biaya produksi implisit (imputed cost). Dari sudut pandangan teori ekonomi mikro, seorang produsen dapat dikatakan untung apabila pekerjaan yang ia terima dari hasil penjualan outputnya lebih besar dari biaya produksi secara keseluruhan baik yang bersifat eksplisit maupun implisit.
1.      Biaya Eksplisit adalah biaya yang dikelurkan perusahaan untuk memperoleh faktor – faktor produksi.
2.      Biaya Tersembunyi (imputed cost) adalah taksiran biaya atas faktor – faktor produksi yang dimiliki dan digunakan perusahaan dalam proses produksinya. Contoh : modal sendiri yang digunakan dalam perusahaan.
Dalam menganalisis biaya produksi perusahaan dibedakan dalam 2 jangka waktu, yaitu :
1.      Biaya Produksi Dalam Jangka Pendek
2.      Biaya Produksi Dalam Jangka Panjang

B. Biaya Produksi Dalam Jangka Pendek
Periode produksi jangka pendek, yaitu periode prduksi di mana produsen tidak dapat mengubah input tetap atau jangka waktu dimana sebagian faktor produksi tidak dapat ditambah jumlahnya.
Untuk menganalisis hubungan fungsional antara biaya produksi dan jumlah barang, biaya produksi dikelompokkan menjadi 2 macam, yaitu biaya tetap dan biaya variabel. Biaya tetap adalah biaya yang tidak berubah terhadap perubahan jumlah barang yang diproduksi. Biaya variabel adalah biaya yang berubah-ubah terhadap perubahan jumlah barang yang diproduksi.
Dalam periode jangka pendek, biaya produksi digolongkan menjadi biaya total dan biaya rata – rata. Biaya total dapat diturunkan menjadi 2 ukuran biaya, yaitu biaya total rata-rata merupakan biaya total dibagi jumlah produksi dan biaya marginal merupakan kenaikan biaya total apabila terjadi kenaikan produksi sebanyak 1 unit.
Jenis – jenis  biaya produksi dalam jangka pendek :
  • Konsep Biaya Total dibedakan menjadi :
1.      Biaya Tetap (Fixed Cost-FC) adalah biaya produksi perusahaan yang tidak tergantung pada tingkat produksi perusahaan. Biaya tetap sering disebut juga overhead cost. Kurva biaya tetap (FC) berbentuk garis lurus karena penambahan atau pengurangan jumlah produksi tidak mempengaruhi biaya tetap yang harus dikeluarkan perusahaan.
2.      Biaya Variabel (Variable Cost-VC) adalah biaya yang dikeluarkan perusahaan tergantung pada jumlah barang yang diproduksi. Kurva biaya variabel (VC) bersifat positif karena apabila jumlah produksi nol, biaya variabel juga nol. Apabila jumlah produksi bertambah, biaya variabel juga bertambah. Secara matematis, biaya variabel (VC) dituliskan dalam persamaan :
VC = P x Q
3.      Biaya Total (Total Cost-TC) adalah keseluruhan jumlah biaya produksi yang dikeluarkan. Biaya total diperoleh dengan menjumlahkan biaya tetap (FC) dan biaya variabel (VC). Secara matematis, TC dituliskan dalam persamaan :
TC = FC + VC
Kurva TC dan VC memiliki bentuk kemiringan yang sama karena besarnya biaya total (TC) perusahaan sama dengan biaya tetap (FC) ditambah biaya variabel (VC) yang dikeluarkan.
  • Konsep Biaya Rata – Rata dan Biaya Marginal
4.      Biaya Tetap Rata – Rata ( Average Fixed Cost-AFC) adalah perbandingan biaya tetap (FC) dan jumlah barang yang diproduksi (Q). Kurva AFC bergerak turun dari kiri atas ke kanan bawah. Kurva biaya tetap (FC) bersifat negatif karena semakin besar jumlah produksi, biaya tetap rata – rata semakin kecil. Secara matematis, biaya tetap rata – rata (AFC) dituliskan dalam persamaan :
AFC = FC / Q
5.      Biaya Variabel Rata – Rata (Average Variable Cost-AVC) adalah perbandingan antara biaya variabel (VC) dan jumlah barang yang diproduksi (Q). Kurva AVC merupakan turunan dari kurva VC, kurva AVC bergerak turun sampai titik belok dan naik kembali. Secara matematis, biaya variabel rata – rata (AVC) dituliskan dalam persamaan :
AVC = VC / Q
6.      Biaya Rata – Rata (Average Cost-AC) adalah rata – rata biaya total yang dikeluarkan perusahaan, baik biaya tetap maupun biaya variabel. Kurva AC merupakan turunan dari kurva TC. Kurva AC bergerak turun dari kiri atas hingga titik belok dan akan naik kembali jika jumlah barang yang diproduksi (Q) bertambah. Secara matematis, biaya rata – rata (AC) dituliskan dalam persamaan :
AC = TC / Q atau AC = AFC + AVC
7.      Biaya Marginal (Marginal Cost-MC) adalah tambahan biaya produksi yang harus dikeluarkan perusahaan setiap 1 unit produksi. Kurva MC bergerak menurun seiring dengan meningkatnya jumlah barang yang diproduksi (Q), ketika mencapai titik terendah kurva MC naik kembali. Bagian kurva MC yang naik selalu memotong kurva AVC dan AC pada titik terendahnya. Secara matematis, biaya marginal (MC) dituliskan dalam persamaan :
MC = TCn – TCn-  atau MC = ΔTC / ΔQ
8.      Hubungan Kurva MC Dengan Kurva AVC dan AC
Jika MC  < AVC, maka nilai AVC menurun
Jika MC > AVC, maka nilai AVC menaik
Jika MC = AVC, maka nilai AVC minimum
Jika MC < AC, maka nilai AC menurun
Jika MC > AC, maka nilai AC menaik
Jika MC = AC, maka nilai AC minimum.
Dalam periode produksi jangka pendek berlaku Hukum Hasil Lebih Yang Semakin Berkurang atau Hukum Produksi Marginal Yang Semakin Berkurang. Hukum Hasil Lebih yang Semakin Berkurang (The Law of Diminshing Return), menyatakan bahwa :
“ Apabila faktor produksi yang dapat diubah jumlahnya (tenaga kerja) terus menerus ditambah sebanyak satu unit, pada mulanya produksi total akan semakin banyak pertambahannya, tetapi sesudah mencapai suatu tingkat tertentu produksi tambahan akan semakin berkurang dan akhirnya mencapai nilai negatif dan ini menyebabkan pertambahan produksi total semakin lambat dan akhirnya mencapai tingkat yang maksimum kemudian menurun.”
Hal ini terlihat pada kurva MC, AVC, dan AC yang membentuk huruf U dan kurva AFC akan terus turun jika jumlah barang yang diproduksi (Q) terus bertambah.
Dalam jangka pendek, ketika suatu perusahaan tidak mampu menghemat biaya tetapnya, perusahaan akan memilih untuk tutup sementara jika harga barang kurang dari biaya variabel rata-rata dalam jangka panjang. Ketika perusahaan tersebut dapat menghemat biaya tetap dan biaya variabelnya, perusahaan itu akan memilih untuk keluar dari pasar jika harga kurang dari biaya total rata-rata.

C. Biaya Produksi Dalam Jangka Panjang
Periode produksi jangka panjang, yaitu periode produksi dimana produsen dapat mengubah faktor produksi tetap atau jangka waktu dimana semua faktor produksi dapat mengalami perubahan.
Dalam periode produksi jangka panjang, perusahaan dapat mengubah faktor produksi (input tetap) yang digunakan dalam proses produksi. Dalam jangka panjang tidak ada biaya tetap, semua jenis biaya yang dikeluarkan merupakan biaya berubah (variabel), artinya perusahaan dapat menambah tenaga kerja, jumlah mesin, peralatan dan luas bangunan.
Kurva biaya total rata – rata per satu unit output jangka panjang merupakan kurva amplop (envelope curve) dari kurva-kurva output rata-rata per satu unit output jangka pendek. Kurva biaya total rata – rata jangka panjang atau kurva LRAC (Long Run Average Cost) adalah kurva yang menunjukkan biaya rata – rata minimum untuk berbagai tingkat produksi apabila perusahaan dapat selalu mengubah kapasitas produksinya. Titik persinggungan dalam kurva – kurva AC tersebut merupakan biaya produksi yang paling optimum/minimum untuk berbagai tingkat produksi yang akan dicapai produsen dalam jangka panjang.
Peminimuman biaya jangka panjang tergantung kepada 2 faktor berikut :
1.      Tingkat produksi yang ingin dicapai
2.      Sifat dari pilihan kapasitas pabrik yang tersedia

Kurva  biaya total rata – rata jangka panjang akan:
(a) Menurun, apabila skala pengembalian dalam produksi adalah meningkat
(b) Konstan, apabila skala pengembalian dalam produksi adalah konstan
(c) Meningkat, apabila skala pengembalian dalam produksi adalah menurun

Kurva LRAC bentuknya hampir sama dengan kurva AC, bedanya kurva AC jauh lebih mirip U, sedangkan LRAC lebih berbentuk kuali. Kurva AC berbentuk U akibat pengaruh Hukum Hasil Lebih Yang Semakin Berkurang dan kurva LRAC berbentuk kuali akibat faktor – faktor yang dinamakan  ahli ekonomi sebagai skala ekonomi (economies of scale) yang menyebabkan kurva LRAC menurun, dan skala tidak ekonomi (diseconomies of scale) yang menyebabkan kurva LRAC menaik.

D. Skala Ekonomi Dan Tidak Ekonomi
Dalam periode produksi jangka panjang ada kecenderungan bahwa pada tingkat permulaan dengan semakin diperluasnya skala usaha akan meningkatkan efisiensi usaha, tetapi mulai titik tertentu perluasan usaha yang lebih lanjut akan berakibat semakin menurunnya efisiensi usaha secara keseluruhan. Skala usaha di mana tingkat efisiensi perusahaan mencapai nilai tertinggi disebut dengan skala usaha yang optimal (optimum scale of plant).
Skala usaha yang optimal secara grafis terlihat pada saat kurva biaya total per satu unit output jangka panjang (LRAC) mencapai nilai minimum. Jumlah output di mana LRAC mencapai nilai minimum disebut tingkat output optimal (optimum rate of output).

1.      Skala Ekonomi
Skala kegiatan produksi jangka panjang dikatakan bersifat mencapai skala ekonomi apabila pertambahan produksi menyebabkan biaya produksi rata – rata menjadi semakin rendah. Produksi yang semakin tinggi menyebabkan perusahaan menambah kapasitas produksi, dan pertambahan kapasitas ini menyebabkan kegiatan produksi bertambah efisien. Pada kurva LRAC keadaan ini ditunjukkan oleh bagian kurva yang semakin menurun apabila produksi bertambah.
Beberapa faktor penting yang menimbulkan skala ekonomi adalah :
    • Spesialisasi Faktor – Faktor Produksi
    • Pengurangan Harga Bahan Mentah dan Kebutuhan Produksi Lain
    • Memungkinkan Produk Sampingan (by – Products) Diproduksi
    • Mendorong Perkembangan Usaha Lain
    • Penggunaan intensif personil dengan keahlian tinggi yang lebih banyak dan penggunaan modal yang lebih banyak (misalnya dengan jadwal shift)

2.      Skala Tidak Ekonomi
Skala tidak ekonomi terjadi ketika ukuran perusahaan berlebihan.  Perusahaan memang bisa meningkatkan ukurannya untuk memperoleh keuntungan dari skala ekonomis, tetapi keuntungan menghilang ketika perusahaan mencapai ukuran tertentu.  Skala tidak ekonomi termasuk jangka panjang dan secara jelas harus dibedakan dari pendapatan yang semakin berkurang yang timbul dalam jangka pendek.  Seringkali diperdebatkan bahwa skala tidak ekonomi adalah jarang - sesungguhnya jika – diamati dalam industri karena perusahaan akan kembali memotong ukuran mereka.
Beberapa kemungkinan penyebab skala tidak ekonomi adalah :
    • Kesukaran pengendalian dan pengawasan 
    • Pembuatan keputusan yang lamban sehubungan dengan kelebihan ukuran administrasi
    • Kekurangan motivasi karyawan.
Perubahan dalam permintaan memiliki dampak yang berbeda jika terjadi pada jangka waktu yang berbeda pula. Pada jangka pendek, peningkatan permintaan meningkatkan harga dan membawa keuntungan, sementara turunnya permintaan akan menurunkan harga dan membawa kerugian. Tetapi, jika perusahaan dapat masuk atau keluar pasar dengan mudah, maka dalam jangka panjang jumlah perusahaan akan selalu berubah hingga tercapai keseimbangan utama ada keuntungan di pasar tersebut.


DAFTAR PUSTAKA

massofa.wordpress.com/2008/03/14/teori-biaya-produksi/
pustaka.ut.ac.id/puslata/online.php?menu=bmpshort_detail2&ID=106

1 komentar: